Trilogi Universitas Nusa Putra & Contoh Implementasinya Berdasarkan Pengalaman
Halo.
Tulisan ini diketik oleh seorang mahasiswa yang biasa disapa
Khoi—atau memiliki nama lengkap Ulfah Mawalatul Khoiriyah. Mengenyam pendidikan
di Universitas Nusa Putra merupakan suatu kebanggaan tersendiri, apalagi berada
di jurusan Sistem Informasi.
Semester enam, tepat di mana saya bergelut dengan berbagai
mata kuliah dan tuntutan perkuliahan lainnya. Kurang lebih dua semester lagi
saya menuntaskan pendidikan di almamater kampus tercinta ini.
Selama berkuliah di Universitas Nusa Putra, ada banyak hal
baru yang saya temui dan tentunya memberikan pembelajaran berharga untuk diimpelemtasikan
dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh yang menohok adalah Trilogi Nusa
Putra.
Berbicara perihal Trilogi Nusa Putra, tentu erat kaitannya dengan
tiga hal ini: Amor Deus (Cinta kasih kepada Tuhan), Amor Parentium (Cinta kasih
kepada orang tua), dan Amor Concervis (Cinta kasih kepada sesama).
Sebagai seorang mahasiswa yang menjunjung tinggi peran
fungsi mahasiswa, rasa-rasanya Trilogi Nusa Putra adalah salah satu kiblat
kehidupan yang harus dijunjung tinggi pula. Sebab dari ketiga hal di atas, yang
namanya kehidupan tidak terlepas dari semua itu.
Terbukti bahwa selain menjadi seorang mahasiswa, saya juga
berusaha menjadi makhluk sosialisasi yang memegang teguh Trilogi Nusa Putra.
Dalam pengimplementasiannya, akan saya jelaskan di bawah ini.
1. AMOR DEUS
Amor Deus atau cinta kasih kepada Tuhan merupakan satu poin Trilogi Nusa Putra yang memiliki nilai absah luar bisa. Seperti yang kita ketahui bahwa sebagai umat muslim, kita memiliki kewajiban yang sangat fundamental yakni menjalankan shalat lima waktu.
Kewajiban akan shalat lima waktu adalah sesuatu yang pantang
dilewatkan, sebab dengan menjalankan kewajiban ini maka itu menjadi bukti bahwa
kita merupakan hamba Allah yang bertakwa. Untuk pengimplementasiannya, saya
bersama teman-teman keleompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang bertempat di Desa
Tamanjaya kerap melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah.
Kami menyadari betapa pentingnya kembali kepada Allah yang
maha kuasa melalui syujud dalam shalat sebagai tempat pulang dan istirahat dari
segala dosa. Selain itu, kami pun memanjatkan doa bersama untuk hajat secara
personal maupun hajat untuk kelancaran pelaksanaan KKN.
Pada dasarnya, shalat lima waktu ini tidak hanya
dilaksanakan pada saat memiliki hajat saja. Melainkan Allah memerintahkan
kepada kita selaku umat-Nya untuk senantiasa menunaikan dalam keadaan apa pun.
2. AMOR PARENTIUM
Amor Parentium atau cinta kasih kepada orang tua merupakan poin kedua Trilogi Nusa Putra yang sama-sama memiliki nilai keabsahan luar biasa bagi kehidupan ini. Saya secara sadar mengakui bahwa orang tua merupakan madrasah atau rumah bagi anak-anaknya. Pintu hati orang tua kapanpun akan selalu terbuka bagi kepulangan anak-anaknya.
Cinta kasih yang tak ternilai dari orang tua itu melahirkan
cinta kasih kepada anak-anaknya untuk senantiasa mengasihi kembali pada orang
tua. Dalam bentuk pengimplementasian mengasihi tersebut, saya berusaha
mendedikasikan diri untuk berbakti kepada kedua orang tua, membantu mereka
meringkan pekerja sehari-hari, membantu Mama membuat masakan untuk disantap
bersama-sama, pun hingga hal terkecil yakni membantu Mama mengambilkan garam di
dapur pada saat Mama merasa bahwa masakannya sedikit kurang garam.
Berbagai bentuk cinta kasih dari saya kepada orang tua—pun dari
orang tua kepada saya adalah salah satu kebahagiaan yang tak ternilai harganya,
bahkan saya rasa hal tersebut tidak bisa dibeli dengan uang. Dengan demikian,
poin kedua Trilogi Nusa Putra ini sangat bermanfaat dan memiliki nilai
kehidupan yang sangat luar biasa bagi saya.
3. AMOR CONCERVIS
Amor Concervis atau cinta kasih kepada sesama merupakan poin ketiga dari Trilogi Nusa Putra yang memiliki nilai sangat krusial bagi kerukunan dan kesejahteraan manusia. Di mana seperti yang kita ketahui bahwa menjaga hubungan baik sesama manusia adalah kewajiban yang harus dilakukan.
Sebab setiap manusia pasti membutuhkan manusia lainnya.
Sebagaimana yang diajarkan dalam agama Islam bahwasanya “Sebaik-baiknya manusia
adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya”. Dan dalam
pengimplementasiannya, saya terjun ke masyarakat untuk turut serta dalam
kegiatan rutin yang bernama JUMSIH (Jumat Bersih).
Dalam kegiatan ini, saya bersama teman-teman kelompok Kuliah
Kerja Nyata (KKN) membantu dalam memotong rumput yang panjang dan tidak
beraturan, membersihkan museum batu dengan cara menyapu dan pel, merapikan
batu-batu yang ada di dalam museum, membakar sampah kering dan sampah plastic agar
tidak terlihat menumpuk, dan beberapa kegiatan lainnya.
Saya percaya bahwa sedikit apa pun uluran tangan yang kita
berikan dapat membantu kegiatan mereka dan tentunya memberikan kebahagiaan.
Sehingga pada akhirnya tercipta yang namanya cinta kasih kepada sesama atau
yang disebut dengan Amor Concervis.
Dengan demikian, dari Trilogi Nusa Putra ini saya belajar
banyak hal dan nilai-nilai kehidupan yang sangat bermanfaat. Semoga kita semua
menjadi manusia yang penuh akan cinta kasih—sehingga terbentuklah suatu tatanan
kehidupan yang rukun, damai, dan tentram.



